Karta.co.id

Karomah Kiai Kholil Sendang, Record Musik dan Ceramah dari Sapu Tangan

  • Senin, 29 Juni 2020 | 15:36
Karomah Kiai Kholil Sendang, Record Musik dan Ceramah dari Sapu Tangan
Makam Kiai Cholil Sendang berada di Desa Sendang Kecamatan Pragaan Sumenep. (Foto Busri Toha / KARTA.CO.ID)

KARTA.CO.ID, SUMENEP – Makam Kiai Khalil Sendang, berada di Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Makam kiai nyentrik ini, masih sangat terawat dan bahkan diberi pagar makam besi. Bahkan, selalu saja ada warga baik di Madura mauapun luar datang berziarah ke makam tersebut.

Sebab, Ketika Bicara seni tradisional Sumenep, Saronen, maka hampir tidak bisa dilepaskan dari tokoh-tokoh awal, salah satunya, Kiai Chalil Sendang.

Kini, Saronen menjadi satu dari tiga situs cagar budaya yang resmi diakui pusat sebagai seni asli Sumenep. Dua lainnya ialah Syi’ir dan Nyadar.

Kiai Abdul Ghani, tokoh masyarakat setempat menuturkan, Kiai Chalil Sendang memang sosok yang sangat dikenal sebagai seniman dibidang musik. Berdakwah melalui musik.

Karomah Kiai Chalil Sendang dalam berdakwah melalui musik menjadi kisah tutur turun-temurun khususnya di daerah Sendang, Pragaan, Sumenep, Madura.

Berdakwah dengan Musik

Karomah Kiai Chalil Sendang

Kiai Khalil menurut Ja’far Shadiq dikenal sebagai kiai saronen. Setiap harinya Kiai Khalil jarang di rumah.

“Kiai Khalil jika bepergian tidak hanya di wilayah daratan, namun juga ke kepulauan,” kata Ja’far.

Karomah Menangkap Suara

Kisah ini merupakan kisah masyhur di kalangan warga Sendang. Khususnya di kalangan penggiat dan pelaku Saronen di sana. Kisah tentang karomah Kiai Khalil Sendang sebagaimana ditulis RM Farhan

Suatu ketika, Kiai Khalil Sendang yang baru datang dari rihlahnya dipanggil oleh kakaknya. Beliau disidang, karena selama ini, pergunjingan tentang Kiai Khalil meresahkan keluarga besarnya.

“Jadi Kiai Khalil dipanggil saudara tuanya. Pergi ke mana saja selama ini, dan disuruh berhenti dari kegemarannya bermain musik atau saronen,” kata Ja’far.

Dengan tenang, Kiai Khalil menjawab bahwa dirinya baru datang dari pulau Gili. Namun riwayat ini tidak menjelaskan pulau gili yang mana. Karena di Sumenep ada beberapa pulau bernama awal gili. Seperti Gili Iyang, Gili Labak, Gili Genteng, dan lainnya.

Setelah itu Kiai Khalil mengatakan bahwa dirinya selama ini berdakwah ke segenap lapisan masyarakat. Jadi kegiatannya bersaronen hanya merupakan sarana dalam dakwahnya.

Tentu saja sang kakak dan saudara tua lainnya dari Kiai Khalil tidak percaya.

“Lantas Kiai Khalil mengeluarkan sebuah bungkusa, berupa sehelai kain sapu tangan. Perlahan bungkusan itu dibuka, dan terjadilah kejadian menakjubkan,” ujar Ja’far.

Kejadian itu berupa suara musik saronen dan suara Kiai Khalil yang berdakwah dengan fasih dan mendalam tentang ajaran agama.

Semua yang menyaksikan tercengang. Kiai Khalil berkata bahwa suara-suara itu sengaja ditangkapnya dan dimasukkan dalam sapu tangan, agar kakak-kakaknya, dan orang banyak bisa mendengar langsung aktifitasnya selama ini.

“Sejak saat itu, kakak-kakaknya dan keluarga besarnya tahu bahwa Kiai Khalil memiliki kelebihan tersembunyi dan maqom yang tinggi di hadapan Sang Kuasa,” ujar Ja’far. (Busri Toha)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional