Karta.co.id

Kisah Kiai Chatib Sendang : Layangan dari Tembaga dan Mancing Ikan Laut dari Langgar

  • Jumat, 26 Juni 2020 | 16:40
Kisah Kiai Chatib Sendang : Layangan dari Tembaga dan Mancing Ikan Laut dari Langgar
Makam Kiai Ahmad Chatib Sendang berada di Desa Sendanh, Kecamatan Pragaan, Sumenep

KARTA.CO.ID, SUMENEP – Berziarah ke makam KH Ahmad Chatib atau Gung Abdillah, membutuhkan waktu sekitar 45 menit dari arah kota Sumenep. Tepatnya, Desa Sendang, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.

Ketika sudah sampai di Desa Sendang, harus bertanya dulu ke beberapa warga di sekitar desa tersebut. Kesulitannya, banyak masyarakat sekitar yang tidak mengetahui jika terdapat makam ulama besar sang waliyullah, yakni Kiai Chatib.

“Saya tidak tahu. Kalau kiai Chalil, makamnya berada di selatan. Berkisar 250 meter dari tempat ini,” ujar salah seorang warga sambil menunjuk ke arah selatan dari jalan raya Sumenep-Pamekasan.

Kisah Chatib Sendang (1)

Di sekitar lokasi, tidak ada penunjuk jalan. Sehingga menjadi kesulitan bagi peziarah yang ingin datang ke lokasi tersebut. Bahkan, jalan ke arah selatan pun banyak yang rusak tetapi masih bisa dilewati, tentu dengan pelan-pelan dan waspada. “Kalau makam kiai cholil, berpagar besi,” imbuhnya.

Setelah media ini sampai di lokasi, ternyata benar bahwa terdapat makam kiai Chalil yang merupakan keturunan kiai Chatib. Makam kiai Chatib ada di sebelah timur dan tidak berpar apapun.

Dalam sejarah, Kiai Khatib Sendang merupakan satu dari tiga anak Pangeran Katandur, ulama sekaligus ahli di bidang nandur atau bertani. Berasal dari Kudus, dan tercatat sebagai cucu langsung Sunan Kudus, salah satu dari Wali Sanga.

Kiai Chatib Sendang merupakan penyebar agama Islam di wilayah Sendang. Cicit dari Sunan kudus itu, memiliki nama Asli KH Abdillah. Dijuluki kiai Chatib karena beliau berdakwah menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Sendang.

Video Kisah Kiai Chatib Sendang (2)

Berdasarsarkan tulisan di Mushalla atau langgar asli peninggalan Kiai Chatib, beliau hidup sekitaran tahun 1892. Langgar tersebut masih berukiran asli dan sebagian masih utuh. Pada bagian atas langgar terdapat ilalang yang dikemas rapi. Tapi masih terlihat bahwa langgar tersebut peninggalan kiai chatib ratusan tahun silam.

Salah satu cicit dari Kiai Chatib adalah kiai Abdul Ghani. Beliau yang merawat peristirahatan terakhir kiai chatib.

Bahkan, beliau pula yang tetap melestarikan beberapa peninggalan kiai chatib. Seperti mushalla yang kini direnovasi. Namun, Beberapa peninggalan kiai chatib berada di Ganding. Antara lain Jidur, pajung agung, tombek panyarang, layangan dari tembaga.

Suatu ketika, kata dia, kiai Chatib memiliki tamu. Maklum, kiai besar di masa itu, pasti selalu kedatangan tamu yang sekedar ingin bertandang atau ingin menimba ilmu dari sang kiai.

Namun, kiai Chatib tidak memiliki ikan sebagai lauk untuk jamuan makan. Sehingga, kiai Chatib keluar ke halaman rumah dan mengambil jala. Tanpa bergerak kemanapun, ternyata jala tersebut dilempar dari mushalla dan tiba-tiba sudah mendapatkan ikan.

“Tentu saja, para tamu yang berada di tempat itu, dibuat kaget dan takjub. Sebab, tanpa kemana mana kiai bisa mendapatkan ikan laut, lalu dibawa ke ibu nyai untuk dimasak” katanya.

Karomah lainnya, kiai Chatib memiliki layagang yang terbuat dari tembaga. Kertas menggunakan kain. Tapi, anehnya, layangan tersebut tetap terbang dengan menggunakan tali.

“Kisah itu, kami dapatkan dari leluhur kami tentang karomah yang dimiliki,’ katanya. (Busri Toha)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional