Karta.co.id

Rois Syuriah MWC NU Wafat, Polsek Gapura Bersama Banser Bantu Atur Lalu Lintas

  • Selasa, 21 Januari 2020 | 16:04
Rois Syuriah MWC NU Wafat, Polsek Gapura Bersama Banser Bantu Atur Lalu Lintas
Anggota Polsek Gapura bersama Banser mengatur arus lalu lintas ketika Rois Syuriah MWC NU Gapura KH Moh Ma'ruf wafat (*)

KARTA.co.id, Sumenep – Kepergian Rois Syuriah MWC NU Gapura, KH. Mohammad Ma’ruf, membuat semua santrinya, kader NU, dan semuanya, benar-benar merasa kehilangan tokoh kharismatik di Kecamatan Gapura, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Setelah kabar kepergian sosok ulama panutan itu, ribuan warga dan santri datang melayat. Namun, agar tidak terjadi kemacetan dan demi menjaga keamanan, ketika shalat janazah dilaksanakan di masjid Al Munawwaroh Banjar Barat Gapura Sumenep, maka Anggota Polsek Gapura Aiptu Agus Pujianto, Aiptu Ferdy dan bripka Yustinian Efendi, SH dibantu Anggota Banser melaksanakan kegiatan Pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas di jalan Raya Gapura Desa Banjar Barat.

Sebagaimana dilansir dari Labumi.id, KH. Moh. Ma’ruf telah meninggal dunia, tepat pada Senin 20 Januari 2020 kisaran pukul 17.00 WIB. Dikediamannya sehabis shalat,  sehabis istirahat.

Tak ada yang menduga, Kiai Ma’ruf akan mendahului kita menghadap Allah. Sekalipun sinyal-sinyal pamitan beliau dengan sejawat,  keluarga, masyarakat sudah diutarakan beberapa waktu sebelumnya.

Diceritakan, saat pengurus MWCNU Gapura silaturahmi pada hari Ahad 19  Januari 2020, kesehatannya memang menurun,  tapi secara medis itu tidak menunjukkan akan meninggal.

Waktu itu, Kiai Ma’ruf bercerita tentang penyakit yang dideritanya dan sempat berdawuh  “kedhi’ engko’ la ecabuda mon Allah” (jangan-jangan nyawa saya mau dicabut oleh Allah, red). Dawuh terakhir itu adalah isyarat pada pengurus MWC yang baru disadari setelah beliau benar-benar dipanggil oleh Allah.

Kiai Ma’ruf memang sudah meninggal.
Akan tetapi,  kebaikan-kebaikan dan sifatnya yang tawadhu tetap abadi dalam ingatan, abadi di sisi Tuhan.

Cerita tentang Kiai Ma’ruf mulai tumbuh di bibir-bibir masyarakat. Banyak kesaksian masyarakat menyebut beliau adalah orang yang tak banyak bicara, tapi selalu memberi contoh dengan sikat dan sifatnya yang sabar, budi luhur dan lain sebagainya.

Sebagai Kiai yang sudah berusia 77 tahun dengan segudang ilmu tak membuat dirinya berhenti belajar, sering pergi ngaji kitab meski pada yang lebih muda sekalipun.

Sebagaimana kesaksian K A. Dardiri Zubairi: Akhlak beliau sungguh luar biasa luhurnya. Tak pernah marah, senyum selalu menghias wajahnya, santun kepada siapapun dengan menundukkan badan ketika bertemu, tak banyak bicara kalau tidak  perlu, bersuara lembut. Melihat beliau sungguh meneduhkan. (ibn)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional