Karta.co.id

Kisah Sinar Putih Pada diri Bindara Saod di Sumenep

  • Selasa, 2 Oktober 2018 | 19:28

https://youtu.be/B8Q6TMmabmA

Karta.co.id, Sumenep – Sejarah Sumenep mencatat bahwa Bindoro Saud adalah Raja ke 29 yang memimpin kerajaan Sumenep. sejak tahun 1750 – 1762. Beliau merupakan keturunan dari Pangeran Katandur. Pangeran ini cucu dari Sunan Kudus, Pangeran Katandur adalah pemimpin pertanian yang mula-mula memberi contoh bercocok tanam didesa Parsanga dan desa-desa disekitarnya pada pertengahan abad ke- 17.

Bendoro Saud diambil oleh pamannya ialah Kyai Pekke, Kyai ini mempunyai banyak santri termasuk pula Bendoro Saud di Desa Lembung, Kecamatan Lenteng Sumenep. Kini, bernama Pondok Pesantren Arrohman Lenteng.

Konon, Pada malam hari santri-santrinya tidur bersama-sama dilanggar, pada suatu malam Kyai Pekke melihat-lihat santrinya yang sedang tidur dalam malam yang gelap itu. Kemudia kiai yang dikenal dengan ahli fiqih itu, melihat sinar putih begitu cerah yang datang dari salah seorang santrinya.

Kyai Pekke menghampiri santri tersebut dan memberi tanda sarungnya dilobangi dengan api rokok, pada keesokan harinya Kyai Pekke memeriksa santri-santrinya, dan ternyata sarung yang diberi tanda disarungnya berlobang ialah Bendoro Saud, Isteri Bendoro Saud ialah Nyai Isza dan mempunyai dua orang anak yang bernama Ario Pacinan dan Sumolo bergelar Panembahan Notokusumo I.

Diceritakan, bahwa Ratu Tirtonegoro bermimpi supaya ia kawin dengan Bendoro Saud anak dari Bendoro Bungso yang tinggal di Batu Ampar.  Oleh karena itu ia menyuruh menterinya untuk memberi tahu Bendoro Saud supaya menghadap ke keraton dan Bendoro Saud diberitahunya atas mimpinya.

Setelah ada kata sepakat dari keduanya perkawinan dilaksanakan dengan mengambil gelar isterinya ialah Tumenggung Tirtonegoro dan menetap di keraton Sumenep. (*)

Selengkapnya cek videonya disini

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional